Kepada Yth. Pengguna Koneksi Internet UNAI
Untuk sekarang ini, koneksi internet UNAI sudah menggunakan provider internet (ISP) yang baru yaitu Jasatel dengan konfigurasi jaringan sebagai berikut:
Koneksi dedicated (1:1), 24x7
- Akses Internet International : 3mbps
- Akses Internet IIX (Indonesia): 3mbps
Dengan digunakannya koneksi internet dari provider yang baru ini, maka kapasitas internet UNAI untuk koneksi internasional naik 6x dari koneksi sebelumnya, yaitu 512kbps.
Untuk sementara ini Departemen Teknologi Informasi, memberikan akses seluas-luasnya untuk menggunakan akses internet dengan membuka akses melalui kabel ataupun wireless. Yang dapat dilakukan secara tanpa biaya oleh seluruh mahasiswa/staff/dosen UNAI.
Walaupun demikian, dalam waktu dekat ini akan diberlakukan suatu aturan yang memungkinkan kapasitas internet yang dimiliki ini untuk dapat diatur dengan baik. Sehingga semua pihak dapat ikut merasakan manfaatnya. Oleh karena itu kami mohon kerjasamanya agar semua rencana ke depan ini dapat berjalan dengan baik.
Hormat kami,
Departemen Teknologi Informasi
Universitas Advent Indonesia
Source : Local LAN
Senin, 30 November 2009
Kisah Baut Kecil
Bacaan: Filipi 2:1-11
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; - Filipi 2:3
Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, "Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!" Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.
Sayang, dunia kerja seringkali berkebalikan dengan ilustrasi di atas. Kita malah cenderung girang melihat rekan sekerja "jatuh", bahkan kita akan merasa bangga apabila kita sendiri yang membuat rekan kerja gagal dalam tanggung jawabnya. Jika itu dibiarkan, artinya perpecahan sedang dimulai dan tanpa sadar kita menggali lubang kubur sendiri. Apa yang disebut gaya hidup seorang Kristen seakan tidak berlaku di tempat kerja. Padahal setiap tindakan yang kita lakukan akan selalu disorot oleh Sang Atasan.
Bagaimana sikap kita dengan rekan kerja? Mungkin saat rekan kerja menghadapi masalah, kita menganggap itu risiko yang harus ia hadapi sendiri. Tapi sebagai tim, kegagalan satu orang akan selalu membawa dampak pada keseluruhan. Jadi mengapa kita harus saling menjatuhkan? Bukankah hasilnya tentu jauh lebih baik jika kita saling mendukung dan bekerjasama menghadapi persoalan? Kristus mengajarkan bahwa kita adalah satu tubuh. Jika satu anggota mengalami masalah, yang lainnya harus mendorong dan menguatkannya. Jangan sampai masalah yang dialami rekan kerja malah membuat kita senang. Tapi baiklah kita berseru, "Berpeganglah erat-erat! Tanpa kamu, kami akan tenggelam!"
Kegagalan atau kesuksesan rekan sekerja akan selalu mempengaruhi diri kita juga
God Bless
Source : http://www.renungan-spirit.com/ilustrasi-rohani/kisah_baut_kecil.html
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; - Filipi 2:3
Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, "Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!" Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.
Sayang, dunia kerja seringkali berkebalikan dengan ilustrasi di atas. Kita malah cenderung girang melihat rekan sekerja "jatuh", bahkan kita akan merasa bangga apabila kita sendiri yang membuat rekan kerja gagal dalam tanggung jawabnya. Jika itu dibiarkan, artinya perpecahan sedang dimulai dan tanpa sadar kita menggali lubang kubur sendiri. Apa yang disebut gaya hidup seorang Kristen seakan tidak berlaku di tempat kerja. Padahal setiap tindakan yang kita lakukan akan selalu disorot oleh Sang Atasan.
Bagaimana sikap kita dengan rekan kerja? Mungkin saat rekan kerja menghadapi masalah, kita menganggap itu risiko yang harus ia hadapi sendiri. Tapi sebagai tim, kegagalan satu orang akan selalu membawa dampak pada keseluruhan. Jadi mengapa kita harus saling menjatuhkan? Bukankah hasilnya tentu jauh lebih baik jika kita saling mendukung dan bekerjasama menghadapi persoalan? Kristus mengajarkan bahwa kita adalah satu tubuh. Jika satu anggota mengalami masalah, yang lainnya harus mendorong dan menguatkannya. Jangan sampai masalah yang dialami rekan kerja malah membuat kita senang. Tapi baiklah kita berseru, "Berpeganglah erat-erat! Tanpa kamu, kami akan tenggelam!"
Kegagalan atau kesuksesan rekan sekerja akan selalu mempengaruhi diri kita juga
God Bless
Source : http://www.renungan-spirit.com/ilustrasi-rohani/kisah_baut_kecil.html
Simple C Calculator
its a simple calculator...it includes, addition, subtraction, multiplication, division, square, cube, and square root..it is simple, yet, powerful...
it's almost at its perfect condition...
#include
#include
#include
it's almost at its perfect condition...
#include
#include
#include
IPB Dorong Pelaksanaan UN
Senin, 30 November 2009 | 19:51 WIB
BOGOR, KOMPAS.com - Institut Pertanian Bogor (IPB) mendorong Departemen Pendidikan Nasional untuk tetap menyelengarakan Ujian Nasional (UN). Agar tidak melanggar keputusan Mahkamah Agung, UN kali ini tidak menjadi sarat kelulusan siswa dahulu.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB Prof Dr Ir Yonny Koesmaryono menegaskan hal di atas di sela Seminar Pendidikan Program Sarjana IPB di Bogor, Senin (30/11) siang. "Tujuan diselenggarakan UN adalah untuk meningkatkan mutu kelulusan siswa sesuai standar nasional. Ke depannya ini akan menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik," katanya.
Keputusan MA itu sendiri, tidak melarang UN diselenggarakan asalkan pemerintah harus meningkatkan kesetaraan fasilitas dan kualitas sekolah di seluruh Indonesia. Berkaitan dengan itu Menteri Pendidikan Nasional menyatakan akan mengajukan Peninjauan Keputusan (PK) atas putusan MA tersebut.
"Standardisasi mutu pendidikan lewat UN itu perlu, sementara proses PK itu makan waktu. Jadi, IPB mendorong agar Mendiknas memutuskan dengan cepat bahwa UN tetap diselenggarakan, namun untuk tahun ini hasilnya tidak menjadi sarat kelulusan siswa," katanya.
Menurut Yonny Koesaryono, tidak masuk akal penyelenggaraan UN baru dilaksanakan setelah fasilitas dan kualitas sekolah dan guru di seluruh Indonesia sudah sama. Sebab, kondisi Indonesia yang sangat luas tidak mungkin menyamakan fasilitas dan kualitas tersebut dalam waktu cepat. Sementara, sekolah dan guru pun perlu mempunyai patokan atau standardisasi untuk menilai keberhasilan pendidikan dan pengajaran yang mereka laksanakan.
"Patokan atau standardisasi pendidikan tentunya harus ditentukan secara nasional, bukan ditentukan atau berdasarkan ukuran sekolahnya atau pemerintah daerahnya. Indonesia sampai saat ini pun belum mempunyai standardisasi pendidikan nasional atau landasan kualifikasi pendidikan nasional," katanya.
Jadi, lanjut Yonny, UN harus diselenggarakan dan paling tidak dalam tiga tahun ke depan penyelengaraan UN harus dapat dipercaya dan didukung dana yang cukup. Selain itu, hasil UN-nya tidak dijadikan dahulu sebagai sarat kelulusan, tetapi dijadikan dasar untuk pemetaan kualitas pendidikan dan sekolah di Indonesia.
Penyelengaran UN sebelumnya dinilai Yonny kurang dapat dipercaya karena tidak sejak awal melibatkan banyak pihak dan masih ada celah-celah yang membuat pihak-pihak tertentu dapat bermain . Itu sebabnya, muncul berbagai masalah seperti hasil UN sebuah sekolah atau satu daerah seragam.
Penyelenggara UN saat ini adalan BNSP (Badan Nasional Standarisai Pendidikan). Pihak lain, dalam hal ini perguruan tinggi, baru dilibatkan hanya pada tahan pengawasan saat ujian. "Seharusnya, sejak awal, yakni mulai dari mempersiapkan soal, pendistribusian, sampai penilaian, harus melibatkan banyak pihak yang terkait dan kompeten," katanya.
Yang tidak kalah penting, semua pihak, terutama kepala daerah, harus melihat UN dengan jujur dan jernih, demi meningkatkan mutu sumber daya manusia di daerahnya. UN jangan dibebani dengan pandangan politis dan gengsi daerah, tetapi dengan jujur hasil UN dipandang menjadikan dasar untuk meningkatkan kebijakan pendidikan di daerahnya. Sehingga pemerintah pusat pun dapat memperioritaskan alokasi dana pendidikannya tetap sasaran.
Yang perlu diingat pula, kata Dekan Fakultas MIPA IPB Dr drh Hasim DEA, yang mendampingi Yonny Koesmaryono, masalah pendididikan bukan hanya beban Departemen atau Dinas Pendidikan. Tetapi juga menjadi persoalan sektor lain seperti Departemen/Dinas Kesehatan, Departemen/Dinas Sosial, dan Departemen/Dinas Pekerjaan Umum. "Sebesar apa pun insentif pemerintah ke sektor pendidikan kalau di daerah itu rakyatnya kurang gizi dan susah sarana kesehatan, anak didik di situ tidak akan atau sulit unggul," kata Hasim.
RTS
BOGOR, KOMPAS.com - Institut Pertanian Bogor (IPB) mendorong Departemen Pendidikan Nasional untuk tetap menyelengarakan Ujian Nasional (UN). Agar tidak melanggar keputusan Mahkamah Agung, UN kali ini tidak menjadi sarat kelulusan siswa dahulu.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB Prof Dr Ir Yonny Koesmaryono menegaskan hal di atas di sela Seminar Pendidikan Program Sarjana IPB di Bogor, Senin (30/11) siang. "Tujuan diselenggarakan UN adalah untuk meningkatkan mutu kelulusan siswa sesuai standar nasional. Ke depannya ini akan menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik," katanya.
Keputusan MA itu sendiri, tidak melarang UN diselenggarakan asalkan pemerintah harus meningkatkan kesetaraan fasilitas dan kualitas sekolah di seluruh Indonesia. Berkaitan dengan itu Menteri Pendidikan Nasional menyatakan akan mengajukan Peninjauan Keputusan (PK) atas putusan MA tersebut.
"Standardisasi mutu pendidikan lewat UN itu perlu, sementara proses PK itu makan waktu. Jadi, IPB mendorong agar Mendiknas memutuskan dengan cepat bahwa UN tetap diselenggarakan, namun untuk tahun ini hasilnya tidak menjadi sarat kelulusan siswa," katanya.
Menurut Yonny Koesaryono, tidak masuk akal penyelenggaraan UN baru dilaksanakan setelah fasilitas dan kualitas sekolah dan guru di seluruh Indonesia sudah sama. Sebab, kondisi Indonesia yang sangat luas tidak mungkin menyamakan fasilitas dan kualitas tersebut dalam waktu cepat. Sementara, sekolah dan guru pun perlu mempunyai patokan atau standardisasi untuk menilai keberhasilan pendidikan dan pengajaran yang mereka laksanakan.
"Patokan atau standardisasi pendidikan tentunya harus ditentukan secara nasional, bukan ditentukan atau berdasarkan ukuran sekolahnya atau pemerintah daerahnya. Indonesia sampai saat ini pun belum mempunyai standardisasi pendidikan nasional atau landasan kualifikasi pendidikan nasional," katanya.
Jadi, lanjut Yonny, UN harus diselenggarakan dan paling tidak dalam tiga tahun ke depan penyelengaraan UN harus dapat dipercaya dan didukung dana yang cukup. Selain itu, hasil UN-nya tidak dijadikan dahulu sebagai sarat kelulusan, tetapi dijadikan dasar untuk pemetaan kualitas pendidikan dan sekolah di Indonesia.
Penyelengaran UN sebelumnya dinilai Yonny kurang dapat dipercaya karena tidak sejak awal melibatkan banyak pihak dan masih ada celah-celah yang membuat pihak-pihak tertentu dapat bermain . Itu sebabnya, muncul berbagai masalah seperti hasil UN sebuah sekolah atau satu daerah seragam.
Penyelenggara UN saat ini adalan BNSP (Badan Nasional Standarisai Pendidikan). Pihak lain, dalam hal ini perguruan tinggi, baru dilibatkan hanya pada tahan pengawasan saat ujian. "Seharusnya, sejak awal, yakni mulai dari mempersiapkan soal, pendistribusian, sampai penilaian, harus melibatkan banyak pihak yang terkait dan kompeten," katanya.
Yang tidak kalah penting, semua pihak, terutama kepala daerah, harus melihat UN dengan jujur dan jernih, demi meningkatkan mutu sumber daya manusia di daerahnya. UN jangan dibebani dengan pandangan politis dan gengsi daerah, tetapi dengan jujur hasil UN dipandang menjadikan dasar untuk meningkatkan kebijakan pendidikan di daerahnya. Sehingga pemerintah pusat pun dapat memperioritaskan alokasi dana pendidikannya tetap sasaran.
Yang perlu diingat pula, kata Dekan Fakultas MIPA IPB Dr drh Hasim DEA, yang mendampingi Yonny Koesmaryono, masalah pendididikan bukan hanya beban Departemen atau Dinas Pendidikan. Tetapi juga menjadi persoalan sektor lain seperti Departemen/Dinas Kesehatan, Departemen/Dinas Sosial, dan Departemen/Dinas Pekerjaan Umum. "Sebesar apa pun insentif pemerintah ke sektor pendidikan kalau di daerah itu rakyatnya kurang gizi dan susah sarana kesehatan, anak didik di situ tidak akan atau sulit unggul," kata Hasim.
RTS
Selasa, 24 November 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
